(Posting ini ditulis scr formal krn saya pengen kirim ke redaksi suatu majalah. Moga aja dimuat…:P)
Beberapa hari yang lalu tetangga saya merayakan pesta ulang tahun anaknya. Namanya Chita. Usianya genap 2 tahun. Semua anak yang rumahnya berada di blok yang sama dengan rumah Chita diundang, termasuk anak saya. Tamu undangan di pesta itu tidak hanya kalangan anak-anak. Teman-teman kantor ayah dan ibunya Chita hampir semua diundang. Teman-teman eyang kakung dan eyang putrinya juga diundang. Heboh ya? Jadi rada kurang jelas, yang pengen pesta si Chita apa orang tuanya apa eyangnya?
Karena anak saya masih berumur 7 bulan, mau tidak mau saya harus mengantar dan mendampinginya ke pesta tersebut. Acara ulang tahun itu berlangsung meriah. Ada badut segala. Anak-anak riuh rendah bermain dengan badut-badut itu. Tapi, lho mana Chita? Ternyata dia ketakutan melihat si badut. Nangis jejeritan. Tidak mau lepas dari gendongan eyangnya. Malah berpegangan kuat-kuat ke kursi saat ibunya mengajak nonton badut. Alih-alih Chita senang bermain bersama badut tapi malah orang tuanya membayar mahal untuk memberi hiburan badut buat anak-anak yang lain. (Sebenarnya sudah lama Chita takut dengan badut. Orang tua dan eyangnya juga tahu. Jadi kenapa tetap mengundang badut ya?)
Chita tampak sangat tidak menikmati suasana. Selain karena takut badut, gaun pesta yang dia kenakan pun terlihat ribet. Dia memakai gaun panjang dengan bahu terbuka lengkap dengan syal. Dia risih memakai gaun itu. Berkali-kali dia merengek minta lepas baju. Apalagi dia sedang pilek. Chita tampak kebingungan antara harus membenarkan syal yang melorot terus atau mengusap ingus yang meler terus…….
Acara tiup lilin pun jadi rada kacau. Penyebabnya ya karena Chita benar-benar takut sama si badut. Padahal badut itu juga bertugas sebagai MC. Jadi untuk mengawal acara tiup lilin, si badut berdiri dari balik tembok di mana Chita tidak bisa melihatnya. Tapi si badut juga tidak bisa melihat posisi dan situasi Chita, ayah, dan ibunya di depan kue ulang tahun. Lilin sudah dinyalakan tapi badut terlalu lama menyanyikan lagu Happy Birthday To You. Karena hampir habis terbakar, lilin pun ditiup sebelum lagu selesai. Eh pas lagu selesai, si badut meminta lilin ditiup. Kacau….
Setelah acara tiup lilin, tiba acara makan-makan. Menu yang dihidangkan cukup banyak. Sebagai salah seorang tetangga yang cukup dekat secara pribadi dengan yang punya acara, saya pun berinisiatif ikut membantu mengganti dan menambah hidangan-hidangan yang sudah atau hampir habis. Lumayan juga beberapa kali bolak-balik menambahkan ayam goreng, sop, rendang, mie goreng, dan lain-lain. Tapi baru setengah tamu undangan yang mengambil makanan, sop di dapur sudah habis. Tak berapa lama rendang dan ayam goreng sudah memperlihatkan tanda-tanda hampir habis juga. Akhirnya kedua menu tersebut dihidangkan bergantian. Jadi kalau ada rendang berarti tidak ada ayam goreng. Kalo ada ayam goreng berarti tidak ada rendang. Sepertinya si empunya hajatan tidak memperkirakan bahwa hampir setiap anak datang dengan orang tuanya atau minimal dengan ibunya. Jadi makanan yang dipersiapkan tidak cukup untuk semua tamu.
Pesta diakhiri dengan pembagian souvenir. Awalnya pembagian ini berlangsung lumayan tertib. Tapi kekacauan terjadi saat ibunya Chita sadar ternyata souvenir sudah hampir habis, padahal tamu undangan masih banyak yang belum kebagian. Kenapa ya? Oh, ternyata….:
1.Banyak anak-anak yang bukan tamu undangan tapi ikut antri ambil souvenir. Mereka adalah anak-anak yang kebetulan lewat dan tertarik melihat badut. Pas badut menyuruh anak-anak antri ambil souvenir, ikutlah mereka dalam barisan. Siapa yang salah coba?
2.Banyak tamu-tamu undangan yang tidak masuk daftar penerima souvenir. Yaitu teman-teman si ibu, si ayah, dan si eyang yang memang datang tanpa membawa anak atau cucunya. Tapi anehnya mereka itu juga ikut antri minta souvenir. Masa mau tidak dikasih?
3.Souvenir ada bermacam-macam. Ada kotak makanan, tempat minuman, dompet CD, dan lain-lain. Dalam pikiran anak-anak, mereka akan mendapatkan semua jenis souvenir. Bukan cuma satu. Alhasil anak yang mendapat kotak makanan antri lagi minta tempat minuman. Anak yang mendapat tempat minuman antri lagi minta tempat CD. Yah, namanya juga anak-anak….
Seandainya pesta ini bertujuan untuk membuat Chita senang, tujuan ini benar-benar tidak tercapai. Mau senang dari mana? Hampir sepanjang pesta Chita berada di luar arena pesta, nangis di gendongan eyangnya karena takut badut. Baju pestanya pun terlihat sangat menyiksa. Yang lebih kasihan lagi adalah Chita sering menangis karena sendirian di tengah-tengah orang yang tidak kenalnya. Sementara orang tua dan kedua eyangnya sibuk beramahtamah dengan tamu-tamu mereka. Dari sekitar 250 orang yang datang, saya yakin tidak sampai seperlimanya Chita kenal.
Seandainya pesta ini bertujuan untuk memenuhi gengsi orang tua atau eyang Chita, tujuan ini juga tidak tercapai. Malah orang tua dan eyang Chita malu karena kehabisan souvenir. Eyang putri juga terlihat hampir menangis. Entah karena malu kehabisan souvenir atau karena malu melihat ibunya Chita yang terlihat tidak bisa mengontrol emosi menghadapi anak-anak yang tidak diundang tapi menyusup minta souvenir itu.
Seandainya pesta ini bertujuan untuk membuat tamu-tamu senang, nah yang ini mungkin tercapai. Anak-anak terlihat menikmati acara juga aneka makanan dan souvenir yang dibagi. Saya sendiri apakah menikmati pesta ini? Tidak juga. Anak saya tidak mau berlama-lama di arena pesta. Mungkin karena pengeras suara yang feedback terus. Berisik sekali. Saya aja tidak nyaman, apalagi dia. Akhirnya kami menyelinap pulang diam-diam pada saat ibunya Chita marah-marah akibat kehabisan souvenir. Kami pun termasuk salah satu dari sekian undangan yang tidak kebagian souvenir. Ah, lebih baik tadi saya menghabiskan waktu di rumah bersama buah hati daripada capek-capek datang ke pesta semacam ini!
Jadi kembali ke judul: begitu pentingkah pesta ulang tahun itu?
Menurut saya, selama anak belum mengerti arti dan esensi dari pesta ulang tahun, jawabannya adalah tidak. Seandainya dirayakan, pesta haruslah dirancang sebaik mungkin agar anak nyaman dan senang. Karena dia adalah centre of interest di pesta itu. Karena dia adalah the most important person dari pesta itu. Mengedepankan gengsi dan prestise orang tua kadang justru menjadi beban yang menyiksa buat anak. Memahami dan mengerti keinginan anak akan menjaga dia selalu merasa senang dan nyaman sepanjang pesta tersebut. Bukankah seharusnya dia yang paling bahagia di hari ulang tahunnya? Bukan hanya orang tuanya. Bukan hanya eyang kakung dan eyang putrinya. Bukan hanya tamu-tamu undangan yang datang.
Suatu saat nanti, jika anak saya sudah mengerti apa arti ulang tahun, saya ingin dia memahami bahwa kado terindah dari sebuah ulang tahun adalah doa yang tulus. Dan saya ingin dia memahami bahwa doa yang tulus dari kedua orang tuanya tidak hanya hadir setiap dia berulang tahun. There’s always a little pray for you in every beat of our hearts, my son. (Anyway, happy birthday Chita….)