Happy (belated) New Year 2009

January 11th, 2009 by atruetraveller

Alhamdulillah

Thank you Allah

Thank you for giving a big year 2008

I hope, I wish, I pray

This year is going to be another big year for me, even bigger

Amin

—————————————————————

we grow great by dreams

all big men are dreamers

they see things in the soft haze of a spring day

or in the red fire of a long winter’s evening

some of us let these great dreams die

but other nourish and protect them

nurse them through bad days

till they bring them to the sunshine and light

which come always to those who sincerely hope

that their dreams will come true

(Woodrow Wilson)

—————————————————————

Bookmark and Share

Dreaming

December 21st, 2008 by atruetraveller

Got to make a new email account due to my new job. While signing up, I choose “what is your car?” to be my secondary password. And here is the answer.

Well, dreaming is free anyway……………….

Bookmark and Share

Begitu Pentingkah Pesta Ulang Tahun Itu?

December 17th, 2008 by atruetraveller

(Posting ini ditulis scr formal krn saya pengen kirim ke redaksi suatu majalah. Moga aja dimuat…:P)

Beberapa hari yang lalu tetangga saya merayakan pesta ulang tahun anaknya. Namanya Chita. Usianya genap 2 tahun. Semua anak yang rumahnya berada di blok yang sama dengan rumah Chita diundang, termasuk anak saya. Tamu undangan di pesta itu tidak hanya kalangan anak-anak. Teman-teman kantor ayah dan ibunya Chita hampir semua diundang. Teman-teman eyang kakung dan eyang putrinya juga diundang. Heboh ya? Jadi rada kurang jelas, yang pengen pesta si Chita apa orang tuanya apa eyangnya?

Karena anak saya masih berumur 7 bulan, mau tidak mau saya harus mengantar dan mendampinginya ke pesta tersebut. Acara ulang tahun itu berlangsung meriah. Ada badut segala. Anak-anak riuh rendah bermain dengan badut-badut itu. Tapi, lho mana Chita? Ternyata dia ketakutan melihat si badut. Nangis jejeritan. Tidak mau lepas dari gendongan eyangnya. Malah berpegangan kuat-kuat ke kursi saat ibunya mengajak nonton badut. Alih-alih Chita senang bermain bersama badut tapi malah orang tuanya membayar mahal untuk memberi hiburan badut buat anak-anak yang lain. (Sebenarnya sudah lama Chita takut dengan badut. Orang tua dan eyangnya juga tahu. Jadi kenapa tetap mengundang badut ya?)

Chita tampak sangat tidak menikmati suasana. Selain karena takut badut, gaun pesta yang dia kenakan pun terlihat ribet. Dia memakai gaun panjang dengan bahu terbuka lengkap dengan syal. Dia risih memakai gaun itu. Berkali-kali dia merengek minta lepas baju. Apalagi dia sedang pilek. Chita tampak kebingungan antara harus membenarkan syal yang melorot terus atau mengusap ingus yang meler terus…….

Acara tiup lilin pun jadi rada kacau. Penyebabnya ya karena Chita benar-benar takut sama si badut. Padahal badut itu juga bertugas sebagai MC. Jadi untuk mengawal acara tiup lilin, si badut berdiri dari balik tembok di mana Chita tidak bisa melihatnya. Tapi si badut juga tidak bisa melihat posisi dan situasi Chita, ayah, dan ibunya di depan kue ulang tahun. Lilin sudah dinyalakan tapi badut terlalu lama menyanyikan lagu Happy Birthday To You. Karena hampir habis terbakar, lilin pun ditiup sebelum lagu selesai. Eh pas lagu selesai, si badut meminta lilin ditiup. Kacau….

Setelah acara tiup lilin, tiba acara makan-makan. Menu yang dihidangkan cukup banyak. Sebagai salah seorang tetangga yang cukup dekat secara pribadi dengan yang punya acara, saya pun berinisiatif ikut membantu mengganti dan menambah hidangan-hidangan yang sudah atau hampir habis. Lumayan juga beberapa kali bolak-balik menambahkan ayam goreng, sop, rendang, mie goreng, dan lain-lain. Tapi baru setengah tamu undangan yang mengambil makanan, sop di dapur sudah habis. Tak berapa lama rendang dan ayam goreng sudah memperlihatkan tanda-tanda hampir habis juga. Akhirnya kedua menu tersebut dihidangkan bergantian. Jadi kalau ada rendang berarti tidak ada ayam goreng. Kalo ada ayam goreng berarti tidak ada rendang. Sepertinya si empunya hajatan tidak memperkirakan bahwa hampir setiap anak datang dengan orang tuanya atau minimal dengan ibunya. Jadi makanan yang dipersiapkan tidak cukup untuk semua tamu.

Pesta diakhiri dengan pembagian souvenir. Awalnya pembagian ini berlangsung lumayan tertib. Tapi kekacauan terjadi saat ibunya Chita sadar ternyata souvenir sudah hampir habis, padahal tamu undangan masih banyak yang belum kebagian. Kenapa ya? Oh, ternyata….:

1.Banyak anak-anak yang bukan tamu undangan tapi ikut antri ambil souvenir. Mereka adalah anak-anak yang kebetulan lewat dan tertarik melihat badut. Pas badut menyuruh anak-anak antri ambil souvenir, ikutlah mereka dalam barisan. Siapa yang salah coba?

2.Banyak tamu-tamu undangan yang tidak masuk daftar penerima souvenir. Yaitu teman-teman si ibu, si ayah, dan si eyang yang memang datang tanpa membawa anak atau cucunya. Tapi anehnya mereka itu juga ikut antri minta souvenir. Masa mau tidak dikasih?

3.Souvenir ada bermacam-macam. Ada kotak makanan, tempat minuman, dompet CD, dan lain-lain. Dalam pikiran anak-anak, mereka akan mendapatkan semua jenis souvenir. Bukan cuma satu. Alhasil anak yang mendapat kotak makanan antri lagi minta tempat minuman. Anak yang mendapat tempat minuman antri lagi minta tempat CD. Yah, namanya juga anak-anak….

Seandainya pesta ini bertujuan untuk membuat Chita senang, tujuan ini benar-benar tidak tercapai. Mau senang dari mana? Hampir sepanjang pesta Chita berada di luar arena pesta, nangis di gendongan eyangnya karena takut badut. Baju pestanya pun terlihat sangat menyiksa. Yang lebih kasihan lagi adalah Chita sering menangis karena sendirian di tengah-tengah orang yang tidak kenalnya. Sementara orang tua dan kedua eyangnya sibuk beramahtamah dengan tamu-tamu mereka. Dari sekitar 250 orang yang datang, saya yakin tidak sampai seperlimanya Chita kenal.

Seandainya pesta ini bertujuan untuk memenuhi gengsi orang tua atau eyang Chita, tujuan ini juga tidak tercapai. Malah orang tua dan eyang Chita malu karena kehabisan souvenir. Eyang putri juga terlihat hampir menangis. Entah karena malu kehabisan souvenir atau karena malu melihat ibunya Chita yang terlihat tidak bisa mengontrol emosi menghadapi anak-anak yang tidak diundang tapi menyusup minta souvenir itu.

Seandainya pesta ini bertujuan untuk membuat tamu-tamu senang, nah yang ini mungkin tercapai. Anak-anak terlihat menikmati acara juga aneka makanan dan souvenir yang dibagi. Saya sendiri apakah menikmati pesta ini? Tidak juga. Anak saya tidak mau berlama-lama di arena pesta. Mungkin karena pengeras suara yang feedback terus. Berisik sekali. Saya aja tidak nyaman, apalagi dia. Akhirnya kami menyelinap pulang diam-diam pada saat ibunya Chita marah-marah akibat kehabisan souvenir. Kami pun termasuk salah satu dari sekian undangan yang tidak kebagian souvenir. Ah, lebih baik tadi saya menghabiskan waktu di rumah bersama buah hati daripada capek-capek datang ke pesta semacam ini!

Jadi kembali ke judul: begitu pentingkah pesta ulang tahun itu?

Menurut saya, selama anak belum mengerti arti dan esensi dari pesta ulang tahun, jawabannya adalah tidak. Seandainya dirayakan, pesta haruslah dirancang sebaik mungkin agar anak nyaman dan senang. Karena dia adalah centre of interest di pesta itu. Karena dia adalah the most important person dari pesta itu. Mengedepankan gengsi dan prestise orang tua kadang justru menjadi beban yang menyiksa buat anak. Memahami dan mengerti keinginan anak akan menjaga dia selalu merasa senang dan nyaman sepanjang pesta tersebut. Bukankah seharusnya dia yang paling bahagia di hari ulang tahunnya? Bukan hanya orang tuanya. Bukan hanya eyang kakung dan eyang putrinya. Bukan hanya tamu-tamu undangan yang datang.

Suatu saat nanti, jika anak saya sudah mengerti apa arti ulang tahun, saya ingin dia memahami bahwa kado terindah dari sebuah ulang tahun adalah doa yang tulus. Dan saya ingin dia memahami bahwa doa yang tulus dari kedua orang tuanya tidak hanya hadir setiap dia berulang tahun. There’s always a little pray for you in every beat of our hearts, my son. (Anyway, happy birthday Chita….)

Bookmark and Share

Mas Faiz 8 Bulan

December 1st, 2008 by atruetraveller

(Postingan ini telat sebulan. Pindah kerja awal November kemaren dan komputer yang dipake belum bisa online internet, jadi ngeganggu acara bikin postingan baru. Alhamdulillah komputer sekarang dah bisa online. Moga bisa lancar posting2 lagi).

Dah lama juga ga cerita ttg mas Faiz ya. Si jagoan neon ituh. Tanggal 10 November ini mas Faiz genap berusia 8 bulan. Tambah pinter, tambah lucu, tambah bandel. Gemessss bgt!

Di bulan ke-8 ini mas Faiz dah bisa ngesot ke depan, duduk berpegangan, ngomong mamam-mbah-dadah-..-etc, tepuk tangan, dadah-dadah, dll. Giginya udah numbuh 2 biji di bawah. Ada dua gigi lagi di atas tapi belum nonjol bgt. Kalo diciumin, mas Faiz akan segera memutar mukanya sehingga posisinya ganti jadi dia yang nyium kita. Udah gitu dia langsung nggigitin dengan gigi-giginya yang baru numbuh itu. Duh nakalnya! Gatel kali ya gusinya karena numbuh gigi.

Mas Faiz ini seneng dinyanyiin. Jadi kalo nangis, diajakin nyanyi biasanya bisa diem. Lagunya apa aja. Tapi lagu fave saya sih: Ambilkan Bulan Bu. Tau kan?

Ambilkan bulan bu

Ambilkan bulan bu

Yang slalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahyanyasampai ke bintang

Ambilkan bulan bu

Untuk menerangi tidurku yang lelap

Di malam ini

Lagu ini ciptaan AT Mahmud. Kata Wikipedia, AT Mahmud menciptakan lagu ini setelah anaknya merengek minta diambilkan bulan. Kata anaknya: ambilkan bulan pak! Nah, kata-kata ini dijadikan lagu dengan mengganti kata pak menjadi bu. Wah, seneng ya bisa nyiptain lagu buat anak sendiri.

Ada cerita lain ttg lagu anak. Masih dari AT Mahmud dan masih katanya Wikipedia. Tau lagu berjudul Amelia?? Syairnya: Oh Amelia gadis cilik ramah nian…. dst. Lagu anak yang berjudul Amelia itu ternyata juga diciptakan AT Mahmud karena terinspirasi oleh seorang anak dengan nama tersebut. Anak bernama Amelia itu adalah cucu dari Emil Salim yang tak lain adalah temen akrab AT Mahmud. Indahnya…….

Bookmark and Share

Tiket Oh Tiket!

September 11th, 2008 by atruetraveller

Beberapa tahun terakhir ini saya memercayakan reservasi tiket ke sebuah agen perjalanan. Tempatnya di deket lokasi kantor saya yang dulu. Mereka sangat kooperatif juga proaktif. Segera ngasih tau kalo tiket yang saya pesen ada atau engga ada. Ngasih berbagai info dan alternatif tiket yang bisa dibeli. Bahkan tiketnya pun dianter ke lokasi kantor saya yang baru, tanpa biaya tambahan. Padahal cukup jauh lho. Yang paling menyenangkan buat saya adalah kini saya tak harus memberi uang muka dulu untuk membayar tiket. Cukup telfon, kasih tau tiket yang mau saya beli, tiket dianter dan saya bayar di tempat. Cash on delivery lah. Enak kan?

Tahun ini untuk urusan mudik saya juga mengandalkan agen perjalanan itu lagi, as always. Tahun-tahun sebelumnya saya engga ada kendala apa-apa. Tiket yang saya mau selalu ada. Tapi kejadian tahun ini bener-bener anomali.

Rabu, 27 Agustus
Saya pesen tiket Taksaka Jakarta – Yogya untuk tanggal 27 September sebanyak 4 kursi dengan DP 300 ribu.

Kamis, 28 Agustus
Pihak agen menelfon, tiket untuk saya udah ada tapi belum di-print. Standard Operating Procedure mereka emang begitu, konfirmasi dulu baru di-print. Tapi tiketnya untuk Taksaka pagi. Itu juga kursinya lain-lain gerbong. Saya pengennya kan tiket Taksaka malam. Lagian males kalo tempat duduknya pisah-pisah. Jadi saya undur jadwal pulang saya dan minta tiket untuk tanggal 28 September.

Jumat, 29 Agustus
Tiket ngga dapet. Mulai panik dong. Jadwal pulang mundur lagi. Lagipula mereka minta saya untuk dateng langsung. Mereka prioritaskan yang datang langsung daripada yang pesen via telpon.

Sabtu, 30 Agustus
Jam 7.30 pagi. Suasana di lokasi agen perjalanan masih sangat lengang. Saya udah PD pasti dapet tiket. Orang enggak ada yang antri kok. Saya pikir saya yang pertama datang. Ternyata oh ternyata, antrian udah bubar. Tiket udah habis. Puyeng deh.

Minggu, 31 Agustus
Jam 05.50 pagi. Udah ada tiga orang bapak-bapak yang antri. Loket dibuka jam 06.50. Perburuan tiket dimulai. Akhirnya pas jam 7 dapet juga tiket untuk tanggal 30 September. Taksaka pagi pula. Habis kalo naik taksaka malem takut ga bisa ngejar solat ‘Ied. Coba kalo saya ambil aja tiket tanggal 27 itu yah? Udah bisa nyampe rumah tanggal 28 September. Menyesal!!!!

Bookmark and Share

Terserah

September 1st, 2008 by atruetraveller

Glenn

…………

Terserah kali ini
Sungguh aku takkan peduli
Ku tak sanggup lagi
Jalani cinta denganmu

Biarkan ku sendiri
Tanpa bayang-bayangmu lagi
Ku tak sanggup lagi
Mulai kini semua terserah

………….

(This fellow singer has never fail makes my heart swinging. I do love his romantic songs.)
Picture was taken from here.

Bookmark and Share

She’s Saving A Slightly Cracked Egg

August 29th, 2008 by atruetraveller

2_1

Picture was taken from here.

“A true friend is someone who thinks that you are a good egg even though she knows that you are slightly cracked.” — Bernard Meltzer.

Today is a kind of a hard day for me. There are bunch of problems inside my head. My life becomes so suck. And I start to feel tired.

I’m tired.
I’m exhausted.
Why does everything become very complicated?

And then, she’s coming so gently. She’s knocking softly into my heart. She’s holding my hand. She’s pointing me out the right way. Everything she’s speaking about just makes me realize how wrong I am, how stubborn I am, how greedy I am. What a shame?

She’s a friend of mine for a couple years. She knows sometimes I don’t treat her decently. Sometimes I hurt her. Sometimes I make her smile gone from that gorgeous face. But still, she shows me that she’s always there every time I need.

What do you expect from a true friend? Don’t you think she’s really that one?

Some says that not all people around us are true friend for us.
But, somehow, I think they are.

Bookmark and Share

Tiga Hari Bersama Mas Faiz

August 21st, 2008 by atruetraveller

Theofficenetcom
(picture taken from theofficenet.com)

Ceritanya, long weekend kemaren ibu saya pulang kampung. Ke Jawa. Emang selama ini ga di pulau Jawa? Ya iya sih. Tapi kebiasaan orang sini nih, Yogya dibilangnya Jawa. Jadi ikut-ikutan saya.

Jadi hari Sabtu, Minggu, dan Senin saya full sendirian ngurus mas Faiz. Aduh rasanya seneeeeeeeng banget. Kapan lagi kesempatan kaya gini datang. Bisa ngasuh anak tersayang. Dari bangun tidur sampe tidur lagi. Bareng-bareng terus. Seneng. Seneng. Seneng.

Sempat agak lost di hari pertama ditinggal ibu. Maklum, biasanya meskipun hari libur Sabtu-Minggu saya di rumah, tetep ada ibu yang bantuin ini-itu ngurus mas Faiz. Untunglah ga parah-parah amat lost-nya. Kalo boleh dibilang bahkan saya lancar-lancar aja tuh ngurus mas Faiz sendirian. Sombong amat yak? Yah, tentunya tanpa mengecilkan peran ibu ngurus mas Faiz selama ini lah (can’t live without you mom!).

So, inilah jadwal saya sama mas Faiz selama empat hari di rumah. Pagi-pagi jam 4 mas Faiz dah bangun. (FYI, mas Faiz tipe anak yang bobo cepet dan bangun cepet. Jam setengah 7 malem dah bobo, tapi jam 4 pagi dah bangun. Lain sama anak tetangga saya. Jam 9 malem masih ngoceh-ngoceh. Tapi bangunnya siang bener. Jam 8 pagi kadang-kadang belum bangun.) Kalo udah bangun biasanya dia ngajak main-main. Jadilah jam 4 pagi kita dah nyanyi-nyanyi, tepuk-tepuk tangan, main-main kerincingan, guling-gulingan. Mas Faiz nih jagonya guling-gulingan. Tengkurep-telentang berkali-kali. Tau-tau dah sampe pinggir tempat tidur. Aduh-aduh. Ga boleh lalai sedikit pun ngawasin dia. Bahaya banget kalo sampe jatuh.

Jam setengah 6 mas Faiz biasanya ngantuk lagi. Kecapean maen trus bobo sendiri. Ga lama sih. Paling cuma seperempat sampe setengah jam. Sekitar jam 6 mas Faiz dah bangun lagi. Minta nenen. Jam setengah tujuh dimandiin. Kepagian yak? Nggak juga sih. Ini dah kebiasaan dia kok.

Habis mandi mas Faiz mamam bubur susu. Jam 8 pagi bobo lagi. Kira-kira sejam lah. Jam 9 sampe jam 11 kita maen-maen di kamar depan. Kalo enggak ya jalan-jalan di depan rumah pake stroller.

Jam 11 sampe jam 1 mas Faiz bobo lagi. Banyak banget ya bobonya? Enak banget jadi baby. Haha. Bangun tidur, waktunya minum jus. Nyam nyam nyam. Mas Faiz suka minum jus. Ga sampe 5 menit dah abis aja 100 mL jus pepaya.

Jam 3 sore waktunya mandi. Terus mamam bubur susu lagi pas jam 4. Maen-maen bentar dah ngantuk lagi. Jam 5 sampe setengah 6 mas Faiz bobo.

Pas waktu bapaknya pulang, jam setengah 6, mas Faiz bangun. Waktunya maen-maen sama bapak. Sampe kira-kira jam setengah 7. Ini dah waktunya mas Faiz bobo malem. Kadang minta gendong dulu. Kadang enggak. Pokoknya kalo dia dah diem aja. Diajakin becanda ngga merespon, itu tanda-tanda ngantuk sudah melanda. Tepuk-tepuk aja pantatnya. Ntar mas Faiz-nya nggumam-nggumam pelan gitu. Terus pules deh.

Aaaaaah selesai tugas hari ini. Paling semaleman mas Faiz bangun beberapa kali minta nenen. Engga pernah rewel sih, alhamdulillah. Anak baik. Anak soleh. Amin. Amin.

——————————————————

Ngomong-ngomong soal ibu pulang kampung, banyak oleh-oleh nih. Peyek kacang, sekoteng, krupuk kedele, apalagi ya? Banyak deh. Ada juga oleh-oleh gosip. Aha!

Kata ibu, ada saudara jauh saya ndaftar jadi caleg. Setahu saya dia bukan orang berada. Dan memang kata ibu, untuk membiayai proses pencalegan itu, saudara saya pinjem uang ke bank sekian puluh atau sekian ratus juta. Dengan agunan berupa tanah milik keluarga besarnya.

Bukan iri atau apa sih. Saya cuma ingat cerita ini. Yah semoga saja saudara saya itu lolos dan akhirnya bener-bener jadi anggota dewan di kabupaten tempat tinggalnya sana. Kalo engga sih kasihan! Pengorbanannya sia-sia.

Ini bukan kali pertama terjadi di keluarga besar saya. Sebelumnya om saya pernah mendaftar jadi caleg juga. Tapi gagal. Puluhan juta melayang. Akhirnya beliau mengajukan pensiun dini ke kantornya. Utang pun terbayar dengan pesangon yang didapat. Tapi akhirnya sekarang ga punya kerjaan tetap. Buka usaha kecil-kecilan di rumah. Kalo gini kan kasihan yah???? Semoga ga pernah terjadi lagi.

Ibu : Seandainya kamu punya uang sekian ratus juta, mau kamu apain?
Saya: Mmmm, beli sekian banyak armada bus. Rekrut sekian banyak sopir untuk bawa bus-bus itu. Ongkang-ongkang di rumah nunggu setoran dateng.
Ibu: Enak ya.
Saya: Iya dong bu. Tapi mana duitnya ya?????

Bookmark and Share

Soundly Sleep

August 13th, 2008 by atruetraveller

100_0730

If this is love, my babyboy,
Then i love you with every beat of my heart,
But this is not love i bet,
This is deeper, much deeper.

When I kiss your face to make you smile, my darling,
I surely understand what pleasure streams from the sky in morning light,
and what delight the summer breeze brings to my body,
when I kiss you to make you smile.

Bookmark and Share

My Son, My Sunshine

August 6th, 2008 by atruetraveller

100_0761_3

Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu

(Galang Rambu Anarki – ciptaan Iwan Fals – album Opini, 1982)

Time flies like a butterfly - smooth and easy. Tanpa terasa tanggal 10 Agustus besok mas Faiz udah 5 bulan. Sekarang dia udah pinter tengkurep-telentang, ngoceh-ngoceh, narik-narik barang, gigit-gigit teether, udah ngenalin orang-orang terdekat dia, udah punya kemauan sendiri, dan masih banyak lagi.

Tengkurep-telentang udah bisa mas Faiz lakukan sejak umur 3,5 bulan. Alhamdulillah lumayan cepet. Ngoceh-ngocehnya udah sejak kapan ya? Lupa. Dulu-dulunya cuma bisa bilang: au…, ae…, ooo…, eee…. Sekarang dah bisa: nggaaaa…, ngge…, mba…, mbo… dan banyak lagi celotehan lain. Celotehan ini jadi sering dimanfaatin mbah putrinya untuk tanya jawab dengan mas Faiz, soalnya kadang-kadang jawabannya nyambung.

Mbah Putri : Mas Faiz mau mam?
Mas Faiz : Ngggaaaa….
Mbah Putri : Lho ko ngga? Mau aja ya?
Mas Faiz : Nggggiiiii….
Mbah Putri : Nah, gitu dong. Nggih…. (bhs Jawa: Nggih = Iya)
(Ada-ada aja nih si Mbah Putri. Padahal Mas Faiz juga ngga ngerti yang dia omongin.)

Kalo lagi digendong mas Faiz sekarang suka narik-narik baju yang gendong, kadang malah nyubit-nyubit lengan. Kalo lagi guling-gulingan suka narik-narik bantal. Akhirnya mukanya ketutupan bantal deh. Gigit-gigit teether baru bisa belakangan ini. Maklum teether kan agak berat ya. Jadi rada susah pegangnya. Mas Faiz ini dah ngenalin banget bapak-ibu dan kapan keduanya ada di rumah. Jam setengah enam sore pasti dia udah gelisah cari-cari bapak-ibunya. Makanya kalo pulang kantor harus nyapa dia dulu, baru mandi atau ngerjain aktivitas lain. Kalo ngga ntar dia ngambek.

Paling suka kalo liat mas Faiz bangun tidur. Dia akan segera noleh kiri-kanan dan tersenyum lebar ke orang yang pertama dia temukan. Bahagia banget liat senyum itu, engga bisa didefinisikan dengan kata-kata.

Memiliki keluarga dan membesarkan seorang anak adalah anugerah terbesar yang pernah saya miliki. Bener-bener bersyukur saya diberikan kesempatan luar biasa seperti ini. Sebagai pribadi dengan sejuta kelemahan – egois, mudah marah, engga sabaran, etc, etc – Allah begitu Rahman dan Rahim mengaruniai saya sebuah keluarga kecil yang begitu teduh dan meneduhkan.

Tentang sifat buruk, saya punya satu kenangan dengan seorang tante saya. Kenangan itu begitu membekas dalam ingatan. Apalagi sekarang tante saya itu sudah meninggal akibat gempa besar di Yogya, 27 Mei 2006 silam. Jauh sebelum tanggal naas itu, bertahun-tahun sebelum saya menikah, saya sering curhat dengan tante saya itu (namanya Bulik Darti). Ini adalah salah satu curhatan saya.

Saya : Bulik, gimana ya nanti kalo saya udah nikah dan punya anak. Apa saya bisa ya?
Bulik : Emang kenapa ngga bisa, Mbak?
Saya : Ya kan saya orangnya gampang marah. Gimana nanti kalo saya marah-marah terus sama anak
dan suami saya?
Bulik : Semua ada waktunya ko, Mbak. Waktunya nanti Mbak Lia nikah dan punya anak, pasti Mbak Lia
sudah nggak suka marah-marah lagi.
Saya : Gitu ya, Bulik. (Tersenyum lega)
(Surat Al-Fatihah untukmu, Bulik. Semoga tenang di sana. Makasih untuk semua nasehat yang menyejukkan.)

Saya sadar betul bahwa pembelajaran pengendalian diri dan emosi adalah suatu proses yang panjang. Tapi setidaknya saya sudah membuat langkah awal untuk itu. Bukankah sepanjang apapun jalan yang akan kita tempuh, semuanya harus dimulai dari satu langkah awal?

Bookmark and Share